MUSE HISTORY

Muse, grup band asal Inggris ini dibentuk pada tahun 1994, di Devon, Inggris. Muse berangotakan Matthew Bellamy (vokalis, gitaris, pianis), Dominic Howard (drummer), dan Chris Wolstenholme (bassis). Setelah peluncuran album mereka yang keempat, Morgan Nicholls juga sering tampil dalam konser Muse sebagai keyboardis dan backing vokal.

Band ini menggabungkan berbagai aliran musik, antara lain aliran klasik, modern, dan bahkan latin pada lagu-lagu mereka.

Ketenaran tak diraih dengan mudah. Pada awal pemunculannya, banyak orang di industri musik Inggris menganggap musik Muse terlalu mirip dengan Radiohead. Namun, perusahaan Amerika Serikat, Maverick Records merealisasikan Muse tampil beberapa kali di Amerika Serikat, kemudian mengontrak mereka pada tahun 1998.

Sepulangnya dari Amerika, Taste Media mendapatkan kontrak untuk Muse di perusahaan-perusahaan rekaman di Eropa dan Australia. John Leckie, yang menjadi produser album untuk Radiohead, Stone Roses, “Weird Al” Yankovic dan The Verve, dijadikan produser album pertama Muse, SHOWBIZ.

Peluncuran album ini diikuti dengan penampilan pendukung band Foo Fighters dan Red Hot Chili Peppers di Amerika Serikat. Pada tahun 1999 dan 2000 Muse bermain pada festival-festival musik besar di Eropa, serta tampil juga di Australia, dan mengumpulkan banyak penggemar baru di Eropa Barat.

ORIGIN OF SYMMETRY, album ke-2 Muse, dirilis pada 18 June 2001. Album ini berisi musik yang lebih berat dan gelap, dengan suara bass Wolstenholme, yang berat dan terdistorsi.

Pada album kedua, Muse bereksperimen dengan alat-alat musik yang tidak lazim digunakan, seperti organ gereja, Mellotron dan tulang binatang. Muse lebih banyak memakai suara tinggi Bellamy, dengan alunan arpeggio gitar, dan piano yang terdengar jelas, yang terinspirasi dari gerakan Romantisme, khususnya musikus Rusia Sergei Rachmaninov.

Setelah album ini, Muse merilis HULLABALOO SOUNDTRACK pada 1 Juli 2002, DVD yang berisi penampilan mereka di Le Zenith di Paris tahun 2001.

Pada edisi Februari 2006, Q Magazine menempatkan album ORIGIN OF SYMMETRY pada urutan 74 dari 100 album terbaik sepanjang masa menurut penggemar.

Album ke-3 Muse, bertajuk ABSOLUTION dirilis pada 29 September 2003. Album ini masih mencampur unsur klasik dengan gaya hard-rock mereka pada lagu-lagu seperti Butterflies and Hurricanesdan Ruled by Secrecy. ABSOLUTION mengusung tema yang lebih gelap – tentang akhir dunia.

Dengan kritik keras di Inggris dan adanya kontrak baru di Amerika, Muse melenggang dengan tur pertama mereka di stadium inernasional. Selama sekitar setahun, Muse mengunjungi Australia, Selandia Baru, Ameriak Serikat, Kanada dan Perancis. Mereka juga merilis lima single yaitu Time Is Running Out, Hysteria, Sing for Absolution, Stockholm Syndrome, dan Butterflies and Hurricanes.

Muse memenangkan penghargaan kategori “Best Live Act” pada BRIT Awards tahun 2005. Tanggal 2 Juli 2005, Muse berpartisipasi pada konser Live 8 di Paris, mereka menampilkan Time Is Running Out dan Hysteria.

Muse meluncurkan album keempat mereka, BLACK HOLES AND REVELATIONS, tanggal 3 Juli 2006. Berbeda dari album sebelumnya, album ini menampilkan jenis mucik yang lebih beragam, mulai dari klasik sampai techno. Bersamaan dengan peluncuran album, Muse jg merilis single pertama mereka, Supermassive Black Hole, yang langsung menghuni nomer 4 di tangga lagu Inggris.

Muse memulai tur promosi album mereka di BBC Radio 1’s One Big Weekend. Setelah tampil di beberapa program TV, mereka melanjutkan tur promosi album di Eropa dan Amerika Utara. Selama tur, Muse juga merilis 2 single lagi, yaitu Starlight dan Knights of Cydonia.

Muse mengawali tahun 2007 dengan tur ke Asia Tenggara dan Australia. Indonesia adalah salah satu negara yang dikunjungi oleh Muse pada tanggal 23 Februari 2007. Konser Muse diadakan di Istora Senayan, Jakarta dan dihadiri 7.000 penggemarnya.

Pada bulan september 2009, Muse meluncurkan album ke lima mereka yang bertajuk “The Resistance”

Dalam rilisan album ke-5nya ini, Muse sepertinya punya satu pakem baru, yakni bigger its better. Betapa tidak, dengan porsi solo gitar yang selebar Grand Canyon, iringan simfoni yang komplit, serta melodi multi-layered yang tebal, Anda akan dibuat mereka-reka dan ternganga selama kurang lebih 55 menit saat menyimak THE RESISTANCE.

Sebenarnya banyak rock band besar sebelum trio asal Teignmouth, Inggris ini yang karyanya berpretensi terhadap musik simfoni. Namun, sejarah membuktikan, tak mudah dan butuh kecerdikan untuk memadukan kontrasnya riff metalzone dan alunan cello untuk dipadukan dalam sebuah rock opera.

Lets cut the chords, dimulai dengan opening single yang sudah wara-wiri di radio dan TV sejak 7 September lalu, Uprising. Dengan aransemen yang padat dan terinfluence oleh driven-rock dari album BLACK HOLES AND REVELATIONS, Matthew Bellamy, Christopher Wolstenholme dan Dominic Howard tahu benar cara menciptakan opening track untuk band sebesar mereka.

Berikutnya, masih ada benang merah yang kuat sejak kemunculan musik adventure dalam ABSOLUTION dengan track sepanjang 6 menit 54 detik, Unnatural Selection. Sebuah bukti jika Bellamy benar-benar menguasai teori dari pergeseran musikalitasnya sendiri.

Sebagai motor band, Bellamy memang menulis semua lagu di THE RESISTANCE. Jadi jangan heran jika Anda akan menemukan campur-aduk yang aneh sekaligus penuh eksplorasi. Boleh jadi ini adalah sebuah penuangan ide pol-polan dari Bellamy, yang musikalitasnya memang tak terbantahkan.

Mulai dari campuran taste Timbaland, Depeche Mode dan Mozart dalam Undisclosed Desires, kemudian sentuhan ala Queen di United States of Eurasia/Collateral Damage, sampai dengan 3 track terpisah yang berkesinambungan, Exogenesis: Symphony Part 1 (Overture), Exogenesis: Symphony Part 2 (Cross-Pollination) dan Exogenesis: Symphony Part 3 (Redemption) yang seakan-akan menampilkan kolaborasi Brian May dan mendiang Freddie Mercury semuanya ditulis oleh Bellamy.

Untuk Anda yang berharap akan adanya kejutan semacam sing-a-long rock anthem bersiaplah untuk kecewa. Jangan harap Anda akan menemukan groove, aransemen pop easy listening karena hanya akan ada string, vokal falsetto dan piano.

Singkatnya, kali ini Muse sedang berpikir se-absurd Radiohead (sekedar catatan, perkembangan olah vokal Bellamy jelas mengacu pada Thom Yorke) dan menuangkannya dengan gaya ‘classical’ penuh estetika sekolosal Queen.

Overall, di tengah euforia simfoni yang megah dan musikalitas yang tak perlu dipartanyakan, Muse akan meninggalkan sebuah tanda tanya besar pada setiap orang yang mendengarkan THE RESISTANCE. Apakah maksud mereka dengan semua ini?

Berikut ini adalah track list THE RESISTANCE.
(All songs written and arranged by Matt Bellamy)

1. Uprising – 5:02
2. Resistance – 5:46
3. Undisclosed Desires – 3:56
4. United States of Eurasia (+Collateral Damage) – 5:47
5. Guiding Light – 4:13
6. Unnatural Selection – 6:54
7. MK Ultra – 4:06
8. I Belong to You (+Mon cœur s’ouvre à ta voix) – 5:38
9. Exogenesis: Symphony Part 1 (Overture) – 4:18
10. Exogenesis: Symphony Part 2 (Cross-Pollination) – 3:56
11. Exogenesis: Symphony Part 3 (Redemption) – 4:37 (

Perihal rifas
seseorang yang sedang mencari jati diri...

One Response to MUSE HISTORY

  1. rizky mengatakan:

    good!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: