Muse, Konspirasi komedi

Terakhir kali muse mengeluarkan album, yakni Black Holes and Revelations di tahun 2006, George W. Bush masih menjadi presiden Amerika Serikat dan Tony Blair masih menjadi perdana menteri Inggris. Kondisi dunia pasca-9/11 yang penuh kecurigaan dan paranoia menjadi inspirasi bagi vokalis-gitaris Matt Bellamy – yang terkenal sebagai penggemar teori-teori konspirasi – untuk menulis lirik dengan tema-tema seperti peperangan, penindasan politik dan bahkan penyusupan oleh makhluk luar angkasa yang menyamar sebagai anggota kerajaan. Ide-ide liar ini dibalut oleh musik yang tak kalah imajinatif, di mana Bellamy, bassis Chris Wolstenholme dan drummer Dominic Howard mengiringi gagasan-gagasan fantastis itu dengan mencampuradukkan rock, electronica dan bahkan musik klasik. Yang mungkin dapat dianggap paling mewakili musik Muse adalah “Knights of Cydonia”, single berdurasi 6 menit yang menggabungkan progressive rock dan surf rock dan menampilkan lirik tentang memberontak melawan penguasa yang tidak disebutkan secara spesifik dan dinyanyikan Bellamy dengan suara falsetto yang histeris. Video-nya pun menampilkan sebuah masa depan fiktif dengan tokoh protagonis berupa koboi yang jago ilmu bela diri dan melawan musuhnya dengan pistol laser.

Di atas kertas seharusnya ini merupakan musik yang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang dengan selera aneh, tapi kalau itu benar, berarti ada banyak orang aneh di dunia ini. Tur untuk mempromosikan Black Holes and Revelations merupakan yang tersukses bagi Muse sejauh ini, di mana reputasi mereka sebagai salah satu band panggung terbaik membawa mereka ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Puncak dari rangkaian tur ini adalah dua konser sold out di hadapan sekitar 75.000 penonton per konser di Wembley Stadium, London, di mana mereka mendapat kehormatan menjadi band pertama yang tampil pasca renovasi stadion legendaris tersebut.

Singkat kata, musik Muse yang ganjil berhasil diterima dengan baik oleh publik. Tak salah kalau berpikir bahwa langkah selanjutnya adalah menjaga popularitas yang baru itu dengan musik yang semakin mudah dicerna.

Ternyata, itu bukan cara Muse.

Di album terbaru mereka, The Resistance, trio asal Teignmouth, Devon, Inggris ini semakin bereksplorasi ke wilayah-wilayah yang belum terjamah. Semakin besar popularitas mereka justru membuat mereka semakin berani dalam mengambil risiko pada album yang direkam di studio pribadi Bellamy di Danau Como, Italia ini. Kehadiran Bellamy sebagai salah satu tokoh dalam video game Guitar Hero 5 merupakan bukti bahwa kehebatannya sebagai seorang gitaris telah diakui, tapi pada “Undisclosed Desires”, lagu berwarna R&B yang menonjolkan programming ala Timbaland, Bellamy malah tidak bermain gitar sama sekali. Di sisi lain, minat Bellamy terhadap musik klasik telah menghasilkan “Exogenesis”, sebuah simfoni berdurasi 13 menit yang terdiri dari tiga bagian dan menampilkan aransemen orkestra yang mewah. Tak ketinggalan juga teori-teori konspirasi yang telah menjadi ciri khas lirik Muse; kali ini topik yang dibahas termasuk siasat Amerika Se-rikat untuk menaklukkan Asia Tengah pada “United States of Eurasia”, yang terilham oleh buku 1984 karya George Orwell dan The Grand Chessboard: America Primacy and Its Geostrategic Imperatives karya Zbigniew Brzezinski, penasihat keamanan A.S. di pemerintahan Presiden Jimmy Carter. Dengan musik yang bernuansa Queen dan Led Zeppelin, lengkap dengan paduan suara yang bernyanyi “Eurasia!”, susah untuk tidak membayangkan para personel Muse ketawa-ketiwi di studio sambil saling menantang, “Bisakah kita lebih gila lagi?”

Kini, publik sudah bisa menyimak sendiri seberapa gilanya Muse kali ini. The Resistance dilepas pada pertengahan September, dan tampaknya lewat album ini popularitas Muse akan semakin terangkat, khususnya di A.S. Mereka membawakan single pertama “Uprising” di acara bergengsi MTV Video Music Awards, dan telah terpilih menjadi band pembuka tur U2 di A.S., di mana mereka tampil di stadion-stadion besar seperti Giants Stadium. Kalau semuanya berjalan sesuai rencana, Muse akan menempati posisi sebagai salah satu band terbesar di dunia saat ini, dan tentu saja keadaan akan menjadi semakin gila bagi semua yang terlibat.

Di tengah semua kegilaan itu terdapatlah Wolstenholme. Selain bertugas menjaga ritme bersama Howard, tampaknya sang bassis Muse ini juga bertugas menjaga agar band itu tidak lupa daratan. Sementara Bellamy dan Howard telah lama hijrah dari Devon dan masing-masing pindah ke Italia dan London, Wolstenholme masih tinggal bersama istri dan keempat anak mereka di kota kecil di mana dia pertama kali bertemu dan membentuk band dengan kedua rekan-nya ketika mereka masih remaja. Dalam percakapan dengan rolling stone melalui telepon pada akhir Agustus lalu, Wolstenholme bercerita tentang suka dukanya menjaga keseimbangan antara kehidupannya sebagai rock star dan bapak rumah tangga, alasan banyak band asal Inggris gagal meraih kesuksesan di Amerika, serta unsur humor di dalam musik Muse.

Apa yang Anda ingat dari konser Muse di Jakarta beberapa tahun lalu?

Chris Wolstenholme: Itu menyenangkan. Kami tur di Asia Tenggara sekitar dua tahun yang lalu. Itu pertama kalinya kami ke belahan dunia itu. Kami sering melakukan tur, tapi masih ada banyak negara yang belum kami kunjungi. Tur Asia Tenggara itu sangat menyenangkan, karena itu adalah cara tur yang sangat santai. Kami punya 3-4 hari kosong di sela-sela tiap konser, dan itu adalah bagian dunia yang bagus untuk dilihat dan dirasakan. Kami tak pernah tahu apa yang dapat diharapkan ketika bermain di hadapan penggemar. Membeli albumnya adalah hal yang berbeda dari menonton konser kami. Kami tidak tahu apa yang dapat diharapkan, tapi yang saya tahu adalah ketika kami terakhir kali tampil di Indonesia, penonton menjadi benar-benar gila! Itu mengejutkan, kalau pergi ke tempat yang jauh seperti itu.

Anda adalah bapak rumah tangga dengan empat anak. Sesulit apakah rasanya kembali sibuk dengan tur dan promosi album?

Keluarga adalah bagian yang besar dari kehidupan saya, dan band ini juga adalah bagian besar dari kehidupan saya. Yang penting adalah mencari keseimbangan. Itu susah untuk dilakukan, tapi band ini sa-ngat kooperatif. Ada banyak manfaatnya memiliki kehidupan pribadi (di luar band), dan saya rasa itu memang dibutuhkan kalau ingin punya karier yang lebih panjang dalam band. Saya beruntung. Di sela-sela semua kerja keras, adalah penting untuk memastikan punya waktu luang untuk kunjungan keluarga. Istri saya akan sering ikut menemani di tur, dan dalam beberapa tahun mudah-mudahan anak-anak saya bisa lebih sering ikut. Saya rasa akan baik-baik saja, saya akan cukup sering ketemu istri dan anak-anak. Ini sangat sulit, tapi itulah harga yang harus dibayar untuk melakukan tur besar.

Apa yang Anda rindukan di saat jauh dari keluarga?

Hal-hal umum saja, hal-hal kecil seperti ulang tahun. Hal-hal yang dianggap lumrah oleh banyak orang. Mengantar anak-anak ke sekolah terasa seperti pekerjaan, tapi saya jarang sempat melakukannya. Itulah waktu luang saya. Saya banyak di rumah dalam 1-2 tahun terakhir, dan saya jarang pergi lebih dari 2-3 minggu tanpa bertemu dengan mereka. Tapi sekarang saya bisa lebih sering bertemu dengan mereka.

Mengenai album baru, apa yang terlintas di kepala kalian menjelang pembuatan The Resistance? Apakah membuat album yang lebih baik dibanding yang sebelumnya adalah prospek yang menakutkan?

Ya, tentu saja. Pada setiap album yang kami buat, adalah penting untuk merasa bahwa kami telah merombak diri. Itu memang intinya. Harus menantang diri sendiri dan memacu diri ke wilayah-wilayah yang kurang dikenal. Harus selalu melakukan sesuatu yang berbeda dan lebih baik dari apa yang kami pernah dilakukan. Itu sangat sulit, tapi proses pembuatan setiap album kami sangat memuaskan. Jadi seharusnya sangat sulit, dan saya yakin akan tiba waktu di mana kami merasa tidak bisa membuat yang lebih baik lagi. Tapi untuk saat ini, saya merasa kami masih punya banyak hal yang dapat dipelajari. Kami bereksplorasi dalam banyak wilayah baru. Album ini, khususnya, bereksplorasi dalam banyak wilayah. Ada lagu di album yang sangat elektronik. Kami belum banyak bereksplo-rasi di wilayah itu, dan akan ada banyak wilayah lagi yang dapat dijelajahi di masa mendatang.

Berarti bisa dibilang proses pembuatan album tidak menjadi semakin mudah bagi kalian?

Masih menyenangkan, tapi seharusnya tidak mudah. Bagi saya, membuat album seharusnya bukan sesuatu yang mudah. Untuk membuat musik bagus, kita harus menantang diri sendiri. Kalau itu terlalu mudah, berarti itu mungkin tidak terlalu bagus. Kita harus mencurahkan hati dan jiwa ke dalamnya. Harus sangat terbuka, harus membuka pikiran kepada ide-ide yang berbeda. Harus bisa memuaskan semua orang di band juga. Ada tiga opini di band, dan harus memastikan semua opini dan ego itu kurang lebih terpuaskan. Kadang-kadang itu sangat sulit, karena seringkali ada kejadian di mana dua anggota band sangat menyukai sesuatu, tapi yang satu lagi tidak. Kita tidak bisa memaksa satu orang itu untuk menyukai sesuatu, kalau dia tidak begitu mau menyukainya. Jadi harus mencari jalan agar semua orang puas. Itulah bagian tersulit dari membuat musik, karena ada tiga orang yang berbeda-beda. Membuat sebuah album adalah tantangan. Itu sulit.

Adakah lagu tertentu yang menjadi titik awal atau fondasi bagi album ini?

Saya rasa tidak ada, karena tiap lagu itu berbeda. Pada setiap album yang kami buat, khususnya dua album terakhir, setiap lagu berdiri sendiri. Bahkan dari segi lirik, album ini cukup berbeda. Dua album terak-hir sa-ngat menonjolkan tema. Album ini tidak tentang satu tema. Liriknya mungkin sedikit lebih politis, tapi saya rasa banyak juga lirik di album ini yang lebih perso-nal.  Ada lagu-lagu tentang cinta, tentang hubungan. Tapi ada juga lagu-lagu dengan sudut pandang yang lebih politis. Jadi susah untuk disimpulkan, tidak ada lagu di sana yang menentukan arah. Mungkin lagu-lagu seperti “Uprising” dan “Resistance” menentukan tema dari segi lirik, entahlah. Tapi kami memperlakukan tiap lagu sebagai entitas tersendiri.

Omong-omong soal lirik, apakah Matt kadang-kadang membuat Anda takut atau apakah Anda sudah terbiasa dengan semua teori aneh yang diumbarnya?

Apa yang keluar memang kadang-kadang sedikit gila, tapi sejak dulu saya cukup terbuka terhadapnya. Bagi saya, lirik adalah hal yang bersifat sangat personal. Kalau untuk urusan gitar, drum, bas dan bahkan piano atau kibord, kami semua punya opini yang keras mengenai instrumen satu sama lain. Tapi lirik adalah satu hal di mana kita harus membiarkan orang yang menulisnya. Itu adalah opini, ekspresi dan emosi me-reka. Memberi tahu seseorang cara menulis lirik adalah seperti memberi tahu seseorang cara berpikir. Semua orang seharusnya di-biarkan berpikir seperti yang mereka mau. Saya tidak punya pendapat apa-apa tentang apa yang dikatakannya. Sejauh ini saya belum mendengar karyanya yang saya anggap menghina atau bertentangan. Ini bukan sesuatu yang kami bahas, saya dan Dom tidak begitu melibatkan diri. Kami semua terlibat dalam proses rekaman, tapi lirik adalah urusan Matt.

Banyak orang tidak melihat sisi humor di dalam musik kalian, tapi di sisi lain, lirik kalian berkaitan dengan topik-topik yang serius. Adakah kekhawatiran bahwa pesan yang ingin disampaikan menjadi terabaikan akibat humor?

Entahlah. Saya malah merasa sebaliknya. Kadang-kadang banyak orang terlalu terfokus pada liriknya, menurut saya. Banyak orang berpikir kami hanya duduk sepanjang hari dan membicarakan teori konspirasi dan akhir dunia, tapi sebenarnya bukan seperti itu. Itu adalah sesuatu yang dibaca Matt, sesuatu yang diminatinya dan mengilhaminya untuk menulis. Tapi kalau Anda mende-ngar musiknya, Anda bisa mendengar unsur-unsur humornya, dan itu mungkin lebih mencerminkan kepribadian kami. Saat kami membuat albumnya, suasana di studio sangat riang dan kami bersenang-senang. Kalau mendengar lagu seperti “Eurasia”, kita bisa mendengar banyak suara tawa tercipta di saat kami membuat musik. Kalau mendengar lagu-lagu seperti “Uprising” dan “Undisclosed Desires”, kita bisa mendengar bahwa musiknya sangat upbeat. Bagi saya, musiknya lebih menunjukkan siapa diri kami dibanding liriknya. Mungkin liriknya lebih mencerminkan Matt, tapi di saat yang bersamaan, Matt juga bukan orang yang selalu serius. Dia seperti anak-anak. Kadang-kadang dia tertawa! [Tertawa]

Saat pertama kali membentuk band ini, kalian merasa beda sendiri dibanding band-band lain, khususnya di Inggris. Satu dekade kemudian, apakah Anda tetap merasa begitu?

Ketika kami baru mulai, Britpop masih besar dan kami sama sekali tidak merasa sebagai bagian dari itu. Kami lebih menyukai musik Amerika yang ada pada saat itu, band-band seperti Nirvana, Rage Against the Machine, Smashing Pumpkins dan Sonic Youth. Band-band seperti itulah yang kami dengar sewaktu masih tumbuh. Se-telah semua itu selesai, Britpop muncul di Inggris. Kami tidak merasa sebagai bagian dari itu, kami tidak merasa dekat dengannya baik dari segi musik maupun lirik. Rasa-nya terlalu Inggris, sehingga orang-orang di luar Inggris tidak akan memahaminya ka-rena itu terlalu Inggris. Dan itu juga tidak bertahan terlalu lama, mungkin sekitar 1-2 tahun masih besar. Oasis dan Blur mampu bertahan karena band-band itu memiliki sesuatu yang melebihi Britpop. Ada banyak band yang muncul dari era itu, tapi sudah tak pernah terdengar lagi. Ada bahayanya kalau menciptakan kancah-kancah musik kecil. Banyak band ikut menjadi bagian dari itu, lalu semuanya menghilang. Lebih baik kalau berdiri sendiri dan tidak terpengaruh oleh apa yang keren pada saat itu. Itu banyak terjadi, orang-orang ikut-ikutan. Kami ingin menempuh jalan sendiri. Kami tidak ingin menjadi bagian dari apa yang dilakukan oleh orang lain. Kami ingin menjadi diri sendiri.

Adakah band lain yang Anda rasakan adanya persamaan?

Tidak juga. Satu-satunya pengaruh adalah apa yang kami dengar sewaktu tumbuh dewasa. Ada banyak bagian musik yang berbeda, tapi kami tak ingin terdengar se-perti siapa-siapa. Band-band seperti Queen memiliki pendekatan yang berbeda dalam membuat musik. Mereka tidak punya rasa takut saat membuat musik. Musik me-reka sangat flamboyan dan berlebihan, tapi mereka tidak takut terdengar konyol sekali-sekali. Itu penting. Musik yang kami lakukan adalah berbeda, tapi metodenya ada yang sama. Ada banyak pengaruh musik klasik, tapi kami tidak ingin terdengar seperti musik klasik. Kami menggunakan pengaruh dan mencoba menciptakan sesuatu yang baru. Kami tidak ingin terde-ngar seperti orang lain. Tentu saja sulit untuk melakukan sesuatu yang benar-benar orisinil, tapi saya rasa tidak ada apa-apa di luar sana yang terdengar seperti kami. Kami tidak terdengar seperti orang lain. Saya rasa kami berada di tempat yang enak, di mana kami tetap mudah dikenal lewat karya tapi tidak disamakan dengan orang lain.

Tampaknya pada album ini kalian akan berhasil menjadi sukses di Amerika. Apakah itu memang cita-cita kalian sejak awal?

Kami tidak khusus mengejar Amerika, kami ingin sukses di semua tempat [tertawa]! Kami tak pernah punya cita-cita khusus itu, kami memperlakukan semua negara sama saja. Semakin banyak tempat yang bisa kami kunjungi, semakin baik. Jelas bahwa Amerika dipandang secara berbeda, karena negara itu begitu besar. Hal tersulit dari menembus pasar Amerika adalah banyaknya waktu yang harus dihabiskan di sana karena negara itu besar. Kita bisa menghabiskan beberapa tahun untuk tur Amerika tapi masih belum cukup untuk mencakupi seluruhnya. Jadi kami masih punya banyak kerja keras di Amerika ka-rena negara itu lebih besar. Tapi mencoba itu adalah penting. Banyak band dalam 15-20 tahun terakhir bisa dibilang “melawan” Amerika. Mereka banyak terfokus di Inggris dan tidak terlalu terfokus di Amerika. Bagi saya, itu tidak adil. Jika orang-orang di Amerika menyukai musik kami, mereka berhak menonton kami bermain seperti halnya orang-orang di negara-negara lain juga. Jangan sampai memperlakukan negara tertentu secara berbeda. Kami ingin mendatangi semua tempat sebisa mungkin.

Adakah kekhawatiran bahwa kalian akan lupa daratan dalam upaya untuk terus mengembangkan musik?

Itu sebuah risiko yang harus diambil kalau membuat musik alternatif. Itu bisa membuat orang-orang tertentu kecewa. Tapi saya rasa kami beruntung, karena semua yang kami buat adalah cukup berbeda. Kini orang-orang mengharapkan itu dari kami, mereka tahu bahwa kami tidak akan sama saja. Kami tidak akan pernah sama, itu tidak mencerminkan apa yang kami lakukan. Jadi kami beruntung, ka-rena orang-orang mengharapkan sesuatu yang berbeda. Memang ada risiko kalau mengubah bentuk, dan mungkin suatu saat nanti perubahan itu selangkah terlalu jauh. Tapi kami hanya bisa membuat musik untuk memuaskan diri sendiri, dan kalau itu sudah tercapai, kami hanya bisa berharap bahwa orang-orang akan menyukai apa yang telah kami lakukan. Sisi itu ada di luar kuasa. Yang penting kami membuat musik yang kami suka.

Perihal rifas
seseorang yang sedang mencari jati diri...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: