Muse meledak di Amerika

Dengan album yang masuk Top Five dan tur stadion bersama U2, trio asal Inggris ini sukses menembus AS, Matt Bellamy memandangnya begini: “Ini adalah pengalaman yang merendahkan hati,” kata sang vokalis-gitaris-pianis beberapa hari sebelum band-nya, Muse, menjadi band pembuka di konser-konser stadion U2 selama tiga minggu. “Itu mengingatkan kami bahwa sedang makmur, tapi tak semakmur mereka,” katanya sambil tertawa melalui telepon dari rumahnya di dekat Danau Como, di Italia utara. Sebenarnya, Bellamy (31 tahun) sedang menelepon di tengah-tengah huru-hara. Seminggu sebelumnya pada 13 September, Bellamy, drumer Dominic Howard dan bassis Chris Wolstenholme tampil untuk pertama kali di Broadway dan televisi A.S. di malam yang sama. Penampilan mereka saat membawakan “Uprising”, single pertama dari The Resistance, album baru trio asal Inggris ini – yang diambil dari konser yang mereka mainkan di hadapan penonton yang memadati Walter Kerr Theatre di New York – juga disiarkan selama MTV Video Music Awards. Dua hari kemudian, The Resistance – album studio Muse yang kelima – dirilis. Lalu, pada 23 September di Giants Stadium, Muse tampil untuk pertama kali di bawah Claw, panggung raksasa milik U2, dan naik ke pentas dengan membawakan “America” dari West Side Story, sebuah pilihan yang pas. Di saat itu, The Resistance – yang memadukan guitar rock modern, sentuhan musik klasik dan lirik Bellamy tentang kiamat, yang dinyanyikan dengan falsetto menusuk – mencapai peringkat No. 1 di 16 negara, termasuk di Inggris, dan No. 3 di A.S. Dapat dipastikan bahwa The Resistance adalah satu-satunya hit album di dunia saat ini dengan sebuah lagu – “United States of Eurasia (+Collateral Damage)” – yang berisi vokal yang terilham oleh Queen, kutipan dari “Nocturne in E Flat Major”-nya Frederic Chopin dan lirik yang mendapat inspirasi dari The Grand Chessboard: American Primacy and Its Geostrategic Imperatives, buku terbitan tahun 1998 yang ditulis oleh Zbigniew Brzezinski, penasihat keamanan nasional untuk pemerintahan Jimmy Carter. Kesuksesan Muse di Amerika telah butuh waktu yang lama. Bellamy, Howard (31 juga) dan Wolstenholme (30) – teman sekolah dari Teignmouth, kota kecil di pantai Inggris barat daya – telah menjual 8 juta album di seluruh dunia, dan di tahun 2007 tiket konser mereka di Wembley Stadium, London terjual habis. “Tapi sejak dulu kami sedikit terbelakang di Amerika,” menurut Wolstenholme. Howard lebih lugas lagi: “Dua album pertama tak dianggap di sana.” Kontrak lama di A.S. bersama label Maverick milik Madonna berakhir setelah album debut Muse, Showbiz (1999), antara lain karena perusahaan itu menyuruh Bellamy untuk mengurangi penggunaan falsetto. Muse akhirnya mulai sering tur di A.S. pada tahun 2004; tiga tahun kemudian, konser mereka di Madison Square Garden, New York sold out. “Kami membangunnya dengan perlahan-lahan, dan itu menciptakan kesenangan,” kata Bellamy, berbicara dengan riang dan cepat. “Kami tidak datang ke sana dengan lagu hit besar atau album hit, walau cukup sukses. Kami tidak berutang apa pun kepada siapa pun. Kesuksesan ini datang karena tampil dengan bagus dan menjaga hubungan yang baik dengan penggemar.” Penggemar itu tergolong aneh dalam variasinya, mencakupi Stephanie Meyer, penulis Twilight yang menyebut band itu sebagai inspirasi untuk empat novel bestseller-nya tentang kisah asmara vampir (grup itu juga menyumbang lagu di soundtrack kedua film Twilight); serta Glenn Beck, aktivis konservatif yang telah memainkan “Uprising” di acara radionya. “Saya tidak tahu banyak tentangnya,” kata Bellamy, “selain beberapa pendapat yang layak dipertanyakan mengenai hal-hal sosial.” Haluan politik sang vokalis sendiri dapat digambarkan sebagai skeptis yang agresif. Dia bernyanyi, “I am hungry for an unrest/Let’s push this beyond a peaceful protest,” pada “Unnatural Selection”, lagu prog rock yang resah yang ditulis Bellamy setelah kematian orang tak bersalah yang didorong polisi selama demonstrasi terhadap pertemuan G-20 pada musim semi lalu di London. Bellamy membenci politikus di sayap kiri maupun kanan – “Saya sulit percaya bahwa kita menyerahkan pembuatan kebijakan yang nyata kepada jaringan kecil berisi orang-orang yang tidak bertanggung jawab kepada para pemilih” – dan dia rajin mempelajari teori konspirasi, hingga titik tertentu. “Saya adalah orang yang penasaran,” katanya, serta bersikeras, “seorang pemikir rasional. Ada banyak hal di Internet yang mensinyalir bahwa 9/11 adalah kerjaan orang dalam. Tapi saya tidak mempercayai itu.” “Dia menyukai yang ekstrim,” kata Howard tentang lagu-lagu ciptaan Bellamy. “Lagipula hal-hal itu lebih cocok dengan musik kami.” Kesalahpahaman terbesar seputar Muse, menurutnya, adalah “kami adalah orang-orang serius yang merasa dunia akan berakhir dalam 10 menit lagi.” (Wolstenholme mengaku bahwa mereka banyak tertawa saat mengerjakan “United States of Eurasia”, khususnya di “bagian Queen. Itu begitu menggelikan.”) Malah, studio di mana Muse merekam The Resistance adalah bungker – sebuah gua buatan manusia di dalam gunung di dekat kediaman Bellamy di Como. Dia menciptakan fasilitas itu dengan mengubah ruang bekas galian yang sebelumnya digunakan sebagai tempat penyimpanan dan gudang anggur. “Kita naik lift dan turun dua lantai ke bawah tanah,” katanya. “Itu turut mempengaruhi. Paranoia yang biasa ada di album-album kami semakin terpicu karena terisolir di bawah sana, sambil menonton BBC World News sepanjang hari.” Saat ditanya seberapa paranoid dirinya, Bellamy tidak ragu-ragu. Menurutnya, pacarnya yang orang Italia adalah “seorang psikolog yang memenuhi kualifikasi. Menurutnya perilaku saya cenderung sedikit paranoid.” Bellamy juga memiliki sejarah rock dalam silsilah keluarganya. Ayahnya, George, adalah gitaris The Tornados, band Inggris tahun ’60-an. “Telstar”, lagu instrumental space pop klasik milik mereka di tahun 1962 yang merupakan penghormatan terhadap satelit komunikasi dan diproduseri oleh Joe Meek, adalah single pertama oleh grup Inggris yang mencapai No. 1 di Amerika. Tapi ketika Matt lahir di Cambridge pada tahun 1978, George sudah bekerja sebagai kontraktor bangunan dan tukang ledeng. “Ayah saya dikecewakan oleh industri – dia tidak dibayar apa-apa,” kata Matt. Di rumah, “tidak ada glamor, tidak ada perasaan bahwa saya dibesarkan oleh orang yang terkenal.” Matt baru mulai bermain gitar di awal usia remaja, tak lama setelah kedua orang tuanya bercerai. “Saya yakin ada kaitan dengannya,” katanya. “Saya merindukannya dan berpaling pada gitar.” (Ayah Wolstenholme bekerja di industri batu bara; ayah Howard adalah penjahit, dengan spesialisasi jubah akademik dan gereja.) Matt mengaku kalau dia kini dapat melihat pengaruh The Tornados dalam lagu-lagu Muse seperti “Knights of Cydonia”, lagu koboi angkasa yang menutup album Black Holes and Revelations dari tahun 2006. “Itu masih menonjol sebagai musik yang sangat aneh, terutama untuk eranya,” kata Matt tentang hit terbesar ayahnya. “Sejak dulu saya menganggap bahwa menjadi inovatif, lain dari biasanya, adalah hal yang baik.” “Anehnya, dia merasa bahwa saya lebih berhasil, dari segi kesuksesan,” kata Matt. “Saya mengendalikan nasib sendiri. Yang dia utamakan adalah jangan sampai ada yang mengatur-atur kami. Tapi sebelum saya mendapat No. 1 di Amerika, saya akan menyimpan dendam.” Dia tertawa. “Kalau saya bisa mendapat album No. 1 di sana, kami benar-benar impas.”

Perihal rifas
seseorang yang sedang mencari jati diri...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: